Kaum Milenial China Memandang Pernikahan, Sebuah Prioritas?

Kaum Milenial China Memandang Pernikahan, Sebuah Prioritas?

Pernikahan adalah salah satu langkah kehidupan yang diharapkan dari pasangan sehingga memiliki keturunan. Tapi berbeda dengan Lizzy Ran, seorang dokter berumur 29 tahun dari di provinsi pusat Hubei. Meski memiliki pendapatan layak tapi belum memutuskan untuk menikah.

Pada saat waktu luangnya, dia memilih untuk dihabiskan bersama teman-temannya atau juga menjelajahi laman internet di rumahnya (18/8). Keputusan yang diambil Lizzy ini justru membuat ibunya menjadi sangat khawatir. Live Casino Online

“Ibu sedikit mencemaskan saya, ia percaya jika menikah dan mempunyai anak ialah sesuatu yang harus dilakukan dalam kehidupan mereka,” ungkap Ran. “Saya tak berpikir seperti itu, menurut saya pernikahan tak perlu.”

Ran mengatakan ia percaya pernikahan ditentukan dari takdir dan ia tak mau memaksakan hal itu. Ran berpikir jika ia adalah tipikal orang China yang lahir tahun 1990an. Ia adalah bagian dari generasi di mana seseorang tak buru-buru mengikat bagian simpul sebagai hasil dari sosial yang besar dan juga perubahan ekonomi yang secara tak langsung membatalkan tradisi milenial China.

Penelitian mengatakan efek yang muncul dari “single society” memiliki implikasi tak hanya individu melainkan negara secara keseluruhan. Pergeseran pola pikir terjadi di sosial media. Dengan penggunaan hastag atau tagar “Orang yang lahir setelah 1990 tak ingin menikah” terlihat pada Twitter versi China Weibo, menarik ribuan komentar pada musim panas ini. Casino Online Terpercaya

“Menikah juga memiliki beban yang sangat berat, dan saya tak mau menanggung itu. Mungkin saya seperti orang yang tak bertanggung jawab,” kata salah satu pengguna Weibo.

Menurut Biro Statistik Nasional, angka pernikahan di China juga mengalami penurunan dari 9,9 per 1.000 orang pada tahun 2013 menjadi 7,2 per 1.000 orang tahun 2018. Secara keseluruhan, tahun 2013 jumlah pasangan yang telah mendaftarkan pernikahan sebanyak 13,47 juta pasangan mengalami penurunan tahun 2018 hanya sekitar 10,11 juta pasangan.

Wang Jufen, seorang peneliti spesialis dari pengembangan perempuan di sekolah pengembangan sosial dan kebijakan publik Universitas Fudan di Shanghai, mengatakan, penurunan angka pernikahan menunjukan jika perempuan China yang berpendidikan lebih baik dan hasilnya akan merasa mandiri secara finansial.

Baca Juga : 22 Negara Kecam China terhadap Minoritas Muslim Uighur

Nonton Online Gratis: www.nof21.com

“Terdapat juga peningkatan jumlah calon kandidat wanita untuk gelar master atau doktoral,” ungkap Wang. Jadi wanita tak butuh bergantung pada laki-laki secara ekonomi, seperti generasi sebelumnya yang melakukannya melalui pernikahan.”

Namun Wang mengatakan, satu tradisi yang bertahan lama menjelaskan jika mengenai banyak pekerja berkerah putih di kota-kota besar tetap tak menikah. Ini akibat dari keinginan wanita yang terus menerus untuk lebih berpendidikan, mencari yang lebih kaya, dan kurangnya minat untuk”melihat ke bawah” untuk mencari seorang kekasih.

Jaring pengaman sosial yang diperluas juga mengurangi kebutuhan kaum muda untuk bisa menikah dan mulai membangun keluarga mereka sendiri.

Gui Shixun, direktur Lembaga Penelitian Kependudukan Universitas Normal China Timur, mengatakan jika di masa lalu pasangan memulai keluarga mereka sehingga mereka memiliki anak yang akan menjaga mereka di hari tua dan juga menjadi bagian dari tanggung jawab mereka supaya menjalankan garis keluarga. Bandar Casino Online

Pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka karna mereka juga sudah memiliki rencana untuk memiliki seorang anak, atau di berbagai kasus, pada saat seorang sudah mengandung sebelumnya. Hari ini, sosial dan asuransi kesehatan di perkotaan dan juga pendesaan menutupi sebagian besar penduduk, jadi menikah bukan sebuah kebutuhan besar.

“Sebagai masyarakat China dan juga dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat, pandangan anak muda melihat tentang memilih seorang pasangan dan menikah sudah berubah,” kata dia.

Survei yang dilakukan oleh Departemen Sekretaris Pusat Liga Komunis tahun 2018 dari 3000 partisipasi, 70 persen anak muda bersedia untuk menunggu seseorang yang tepat, 16 persen mengatakan jika mereka tak akan menikah dan 14 persen sisanya mengatakan mereka bersedia berkompromi untuk menemukan pasangan.

Vincent Fan seorang pekerja di bidang keuangan berumur 30 tahun dari Haikou di provinsi Hainan Selatan memilih untuk tak terburu-buru supaya bisa menikah meskipun desakan dari orang tua ada. Ia mengatakan menikah bukanlah prioritas utamanya.

Berbeda dengan Xiao Lei (37) dan pacarnya (43) yang berasal dari Shanghai, mereka yang sudah hidup bersama selama dua tahun juga akan segera melangsungkan pernikahan pada November tahun ini karena desakan dari orang tua Xiao yang memberikan ultimatum untuk mengakhiri hubungan mereka jika Xiao tidak menikah sebelum umur 38 tahun.

Gui peneliti populasi, mengatakan tingkat pernikahan yang rendah tak akan membantu angka kelahiran yang rendah. Sebaliknya, akan mempercepat angka masyarakat di China serta memberikan tekanan lebih lagi kepada kelompok pekerja yang semakin menyusut.

China mengabaikan kebijakan satu anak pada tahun 2016 dan sedang mempertimbangkan menurunkan usia pernikahan untuk pria dan wanita dan meningkatkan tingkat kesuburan. Casino Online Indonesia

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*